Trending
Rabu, 25 Juni 2025

Gen Z Tiba-tiba Naksir Kamera Analog Lagi, Ada Apa Sih?

  • Share
  • fb-share
Gen Z Tiba-tiba Naksir Kamera Analog Lagi, Ada Apa Sih?

Kenapa Gen Z kembali ke kamera analog? Padahal kamera digital dan smartphone sekarang super canggih: praktis, hasil instan, langsung bisa di-edit di hape. Mungkin jawabannya adalah karena kamera film itu punya vibe lain. 

Lo nggak bisa buru‑buru, harus mikir dulu, “Ah, siapin exposure, atur framing, cek light meter dulu kali ye…” dan seterusnya. Setiap rol film cuma muat 36 frame, jadi setiap jepretan terasa lebih berharga. Rasanya kayak main “slow life” di tengah kesibukan yang nggak pernah berhenti.

Nah, itu baru kesimpulan awal. Gue pun sebenarnya udah menelusuri kenapa Gen Z sering make kamera analog belakangan ini. Baca sampai habis ya!

Hasil Kamera Analog Punya Estetika yang Beda

Coba deh cek feed Instagram anak‑anak analog. Foto‑foto mereka punya grain yang nyantol, warna hangat, sama bokeh yang lembut. Ada karakter vintage yang susah banget ditiru digital. 

Hasilnya? Momen jadi terasa lebih “hidup” dan punya cerita. Lo bisa lihat tonasi film, highlight yang sedikit overexposed, atau vignette halus di pinggir frame—semua itu bikin foto terasa nostalgic tapi tetap kekinian.

Mindful Moment, Bro!

Kamera analog punya sense of slow. Di era selfie tiap detik dan scrolling tanpa henti, kamera analog ngajarin kita untuk slow down. Lo harus ngebayangin hasilnya dulu, nentuin komposisi, lalu klik—baru bisa cek setelah dicetak. 

Proses develop film di lab juga bagian seru: kayak nunggu paket kiriman spesial. Begitu film jadi, sensasi “Wow, ini hasil gue!” itu satisfying banget.

Gen Z tuh kadang kerasa capek sama tuntutan update konten nonstop. Kamera analog jadi pelarian; dunia yang lebih pelan, penuh kesadaran. Gak ada filter beauty, retouch berlebihan, Everything is raw and real.

Tren Vintage yang Nendang

Nggak cuma soal kamera, banyak Gen Z juga doyan barang‑barang retro: dari vinyl sampai jam Seiko lawas. Kamera analog jadi simbol zaman dulu yang punya feel otentik. Di tengah gempuran gadget dan AI, mereka suka nostalgia ke masa sebelum feed dan story merajai hidup.

Mulai banyak yang hunting kamera film second‑hand, ada juga yang trial‑error develop sendiri di rumah. Produsen film, kayak Kodak, ngelaporin permintaan film analog naik signifikan belakangan ini. Banyak lab film pun kebanjiran order develop. Bahkan sekarang bermunculan merek baru yang bikin kamera analog simpel dan affordable, biar makin banyak yang bisa ngerasain experience‑nya.

Kreativitas Nambah Karena Kamera Analog

Dengan keterbatasan film, lo dipaksa eksplor komposisi, cahaya, dan momen. Lo bisa bereksperimen pakai double exposure, lompatin roll ke roll, atau bikin proyek tematik. Tanpa “undo” edit digital, tiap satu foto punya nilai seni sendiri. Ini ngebuka jalan buat gaya fotografi yang lebih personal dan unik.

Kalau lo penasaran, coba deh pinjam dulu kamera analog temen. Pelajari cara pakai—atur shutter speed, aperture, sama fokus manual. Ambil tema sederhana: ngopi pagi, temaram lampu jalan, atau candaan tongkrongan. Beli film 36 frame, dan rasakan serunya foto analog sejati. Siapa tahu obrolan nongkrong lo selanjutnya jadi tentang hasil cetakan kece yang lo pajang di kamar!

Nah, setelah lo paham asyiknya nge-slow down pakai kamera film dan nikmatin setiap jepretan, sekarang kita intip nih tiga kamera analog yang wajib lo jajal!

Rekomendasi Kamera Analog, Bro!

Kodak Ektar H35

Lo yang suka jalan‑jalan santai tapi pengen hemat film, H35 ini pas banget. Kamera half‑frame dengan bobot cuma 100 g—ringan buat dibawa nongkrong kemana‑mana. Karena half‑frame, sekali rol 36 exposure bisa jadi 72 foto—hemat banget! 

Nah, kalau mau hasilnya bagus, lo bisa pakai dua roll film ini. Buat warna vivid dengan grain halus, pakai Kodak Ektar 100 (ISO 100) untuk hasil ultra‑saturation; atau kalau mau nuansa klasik, Kodak Tri‑X 400 pas banget buat black & white.

Olympus Pen EE‑3

Kalau lo cari kamera legendaris yang simpel, Olympus Pen EE‑3 jawabannya. Kamera ini super gampang dipakai buat pemula—cuma point and shoot, hemat film dobel, dan hasilnya otentik dengan vignette halus kalau under‑exposed

Lo bisa pakai Kodak Portra 400 buat warna kulit natural dan  lembut, atau Ilford HP5+ 400 kalau lo pengen black & white dengan grain tebel yang nge‑pop.

Nikon FM2

Ini nih si tank di dunia analog: Build super solid, kontrol manual penuh, dan kompatibel dengan puluhan lensa Nikkor—bikin portofolio lo makin variatif. 

Jajal kamera ini pakai roll film Kodak Portra 160 atau Fuji Pro 400H buat foto warna lembut dan dynamic range luas, atau Kodak Tri‑X 400 kalau lo demen BW grainy tradisional.

Gak ada momen yang lebih seru daripada lo nyoba langsung: pinjem kamera, jepret perlahan, dan rasain nikmatnya belajar sabar. Setiap klik itu investasi kesabaran yang bikin foto lo jadi artsy nan nostalgic. Jadi, tunggu apa lagi? Bawa kamera analog ke tongkrongan, share hasilnya, dan rasain sendiri magic-nya film klasik!

(PC)

Comments
John TSH
ada yg fomo
Putra
gt deh kan fomo