Pernah lagi duduk santai, kopi tinggal setengah, playlist muter random, tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Eh, lo tim Oasis apa Blur?” Sekilas kayak pertanyaan receh. Tapi entah kenapa, tongkrongan bisa langsung panas. Eits, bukan berantem beneran, tapi adu argument semi-serius.
Ini bukan sesuatu yang mengherankan. Soalnya di balik dua nama itu, ada dua cara pandang hidup yang beda. Dan itu yang bikin debat ini gak pernah basi, mau diulang berapa kali juga.
Dua Band, Dua Dunia Yang Gak Pernah Akur
Oasis dan Blur itu bukan cuma soal musik. Oasis datang dengan sikap “gue apa adanya, take it or leave it”. Lagu-lagunya kayak teriakan percaya diri anak kelas pekerja yang pengen hidupnya naik level, tapi tetep dengan kepala tegak.
Di sisi lain, Blur lebih kayak si anak seni yang doyan mikir, ngamatin sekitar, lalu menuangkannya ke lagu dengan cara yang agak nyeleneh tapi cerdas.
Makanya pas lo milih salah satu, sebenernya lo lagi nunjukin kecenderungan lo juga. Lo lebih relate sama ambisi mentah dan emosi besar ala Oasis? Atau lo lebih nyantol sama ironi, observasi, dan gaya santai tapi tajam ala Blur?
Kenapa Pertanyaannya Selalu Mancing Emosi?
Yang bikin seru, debat Oasis vs Blur itu jarang berakhir dengan kesimpulan. Soalnya gak ada jawaban bener atau salah. Ini bukan lomba teknik bermusik, tapi urusan rasa. Dan urusan rasa selalu personal.
Di tongkrongan cowok, hal kayak gini pas banget buat adu argumen ringan. Gak perlu data ribet, cukup bilang, “Gue ngerasa hidup pas dengerin lagu mereka.” Abis itu, obrolan ngalir ke mana-mana. Dari memori pertama kali denger lagunya, sampai gaya hidup yang diam-diam kebentuk dari musik yang sering diputer.
Debat Klasik Yang Gak Pernah Selesai
Menariknya, meski eranya udah lama lewat, Oasis dan Blur tetap relevan. Lagu-lagunya masih muter di playlist, kaos band-nya masih dipakai ke mana-mana, dan perdebatan klasik ini masih terus hidup. Kayak ritual tongkrongan yang wajib ada.
Mungkin karena di dunia yang makin ribet, debat ini ngasih ruang buat kita balik ke hal simpel. Duduk bareng, tukar cerita, beda pendapat, tapi tetep satu meja. Jadi, mau lo tim Oasis atau Blur, yang penting obrolannya jalan. Soal pilihan, itu urusan belakangan.





Comments